EDITORIAL

Trisna Willy dan Inisiasi Gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi di Kemenag

“Pertama kali Bapak mendapatkan amanah untuk memimpin Kementerian Agama, saya cemas,” ungkap istri Menteri Agama Trisna Willy Lukman Hakim Saifuddin, Jumat (08/03).

Kecemasannya bukan tanpa alasan. Saat itu, tahun 2014, Menag Lukman Hakim Saifuddin diminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memimpin Kemenag. Padahal, saat itu masyarakat sedang ramai memperbincangkan kasus korupsi penggunaan dana haji yang melibatkan orang nomor satu di Kemenag.

“Saat itu, Kemenag betul-betul suram. Bapak bercerita, suasana di kantor muram. Karena tiap hari ada saja anak buahnya entah Dirjen, Direktur atau pun staf yang dipanggil ke KPK,” kenang Willy.

Kecemasan Willy makin bertambah ketika ia mengetahui bahwa Kemenag merupakan kementerian yang memiliki satuan kerja terbesar di Indonesia. Lebih dari 4000 satuan kerja yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di dalamnya madrasah-madrasah negeri.

“Saat itu saya berpikir, mampukah Bapak memimpin lebih dari empat ribu satker? Apa yang harus saya lakukan sebagai istri. Sebagai penasihat Dharma Wanita, saya harus berbuat apa? Saya tak ingin jadi beban untuk Bapak,” ujarnya.

(DWP), Willy merasa harus segera membuat program yang dapat menggerakkan istri-istri pegawai Kemenag ini. “Saya membayangkan ini akan jadi kekuatan luar biasa, bila DWP Kemenag bisa bergerak dari pusat hingga daerah. Karena itu tadi, satkernya kan banyak sekali,” tutur Willy.

Trisna Willy mulai melihat ada sebuah celah untuk melakukan perubahan ketika ia mewakili OASE KK mengikuti sosialisasi Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK). Sosialisasi yang diselenggarakan pada Oktober 2015 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini membangkitkan optimisme dalam diri Willy.

Ketika kemudian ia berkesempatan untuk mengikuti kembali sosialisasi SPAK yang digagas DWP Pusat pada Desember 2015, keyakinannya pun semakin bulat. Ia yakin, ini bisa jadi langkah awal memberdayakan DWP Kemenag.

Sejak itu, Willy pun berkomitmen untuk mengajak jajarannya di DWP Kemenag untuk bersama-sama melakukan gerakan moral tersebut. “Saya merasa, mungkin ini sedikit yang bisa kami perbuat sebagai DWP. Melakukan gerakan moral ini, sesungguhnya kami sedang menjaga keluarga kami, menjaga suami kami untuk tidak melakukan tindak korupsi,” tuturnya.

Komitmen yang diberikannya, ternyata mendapatkan dukungan penuh dari Menag Lukman Saifuddin. “Bapak mendukung sekali gerakan ini. Gerakan moral ini sesungguhnya dimulai dari rumah. Di sini tantangannya,” kata Willy.

Willy bercerita pernah suatu kali Menag pulang dari tugas dinas, kemudian dia menyampaikan ke keluarga bahwa ada yang memberikan beliau cenderamata. Bukan sekedar cenderamata, tapi cenderamata yang sangat mahal harganya.

“Tapi, kemudian anak-anak bilang, ‘Laporkan ke KPK Yah. Kami gak mau lihat Ayah pakai rompi orange’,” kisah Willy.

Tak sia-sia, komitmen ini pun diapresiasi KPK. Di tahun 2017, Menag Lukman Saifuddin tercatat sebagai pelapor gratifikasi terbesar ketiga setelah Presiden Jokowi dan Wapres JK.

Komitmen ini yang kemudian ia tularkan kepada jajarannya di DWP Kemenag. Bersama DWP Kemenag, Willy pun mulai menggelorakan gerakan SPAK Kemenag ke seluruh penjuru Indonesia.

“Maka, ketika pada Maret 2016, Ibu Fitra Idris (istri Inspektur Jenderal M.Yasin – red) melaporkan akan membuat seminar sehari untuk sosialisasi SPAK untuk ASN dan DWP Itjen, dan meminta kehadiran saya, saya beri syarat,” tuturnya.

“Saya jawab, saya akan hadir tapi membawa 34 orang ibu istri Kanwil Kemenag se-Indonesia, agar mereka tahu juga soal SPAK,” imbuh Willy.

Berkat kegiatan itu, SPAK pun mulai dikenalkan kepada DWP Kemenag di 34 provinsi. “Usai kegiatan itu, kemudian secara berturut-turut dilakukan training of trainer (TOT) agen SPAK oleh KPK dan AIPJ. Ini diikuti oleh perwakilan DWP dari tiap kanwil,” jelas Willy.

Berdasarkan catatannya, sejak 2016, sekurangnya telah dilakukan delapan kali training of trainer (TOT) oleh KPK dan AIPJ. “Pada 2016 dilakukan lima kali, masing-masing dilaksanakan di Aceh, Semarang, Palangkaraya, Bali, dan Ambon. Istri-istri Kakanwil yang mengikuti TOT yang diselenggarakan oleh KPK ini,” kata Willy.

“Kemudian di tahun 2018 dan 2019 ini masing-masing dilakukan satu kali TOT. Ini yang menyelenggarakan inspektorat jenderal Kemenag, dengan narasumber tetap dari KPK dan AIPJ. Pada TOT terakhir, mulai dilibatkan juga istri para rektor perguruan tinggi Keagamaan,” lanjut Willy.

Saat ini, jumlah agen SPAK di Kemenag menurut Willy telah mencapai ribuan orang. “Hingga 2019 ini, jumlah agen yang sudah mendapatkan TOT langsung, ada 269 orang. Para agen ini pun melakukan sosialisasi masif ke bawah, hingga akhirnya kita memiliki ribuan agen SPAK Kemenag di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Kini, gerakan SPAK di Kemenag terus menggeliat. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan mengapresiasi Kementerian Agama karena menjadi satu-satunya kementerian/lembaga yang telah memiliki agen Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) di 34 Provinsi. Apresiasi ini disampaikan Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat memberikan sambutan pada Evaluasi Pelaksanaan Program Pencegahan Korupsi SPAK,di Depok, Jawa Barat.

“Kalau saya pergi ke daerah sekarang, setiap saya berbicara tentang pencegahan korupsi, di sana selalu sudah ada agen SPAK. Kalau saya tanya, darimana? Pasti dari Kemenag. SPAK Kemenag ini sudah ada di 34 provinsi,” tutur Basaria, Jumat (23/11).

Lain lagi testimoni yang disampaikan oleh aktivis AIPJ Judhi Kristantini. “Dalam berbagai forum diskusi dengan kementerian lain, saya ungkapkan bahwa apa yang terjadi di Kemenag, itu merupakan suatu hal yang menyeluruh, komprehensif. Pasti ada contoh dari pemimpinnya, ada kemauan luar biasa dari anggota-anggotanya. Kemudian ada dukungan dari suami-suaminya yang merupakan ASN Kemenag,” ungkap Judhi

Tak main-main, Kemenag pun menjadikan SPAK sebagai salah satu dari 15 langkah pencegahan korupsi di Kemenag. Willy mengaku sangat bersyukur dengan capaian ini.

“Saya berharap perempuan-perempuan di Kemenag terus menularkan komitmen dan nilai-nilai anti korupsi ini. Saya amat optimis. Karena kekuatan perempuan, inspirasi perubahan,” kata Willy.

Selamat Hari Perempuan Internasional 2019.

Source
kemenag.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close